Ikan Teri Asap Sumber Pendapatan Warga Boneatiro, Omzetnya Jutaan Perbulan

0
79
Ikan teri asap atau warga Desa Boneatiro menyebutnya ikan kaholeo yang menjadi sember pendapatan warga desa setempat.

DILANSIR – Usaha pembuatan ikan teri asap cukup menjanjikan bagi warga Desa Boneatiro, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra). Pasalnya, usaha ikan yang disebutnya kaholeo katowo sudah menjadi sumber pendapatan warga desa setempat sebagai pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM).

Pembuat ikan kaholeo, Eva (54) mengaku sudah menekuni usaha sejak lama bersama keluarganya. Dalam satu bulan, usahanya mampu meraup untung jutaan rupiah.

Kata dia, ikan kaholeo ini tidak pernah putus sepanjang tahun. Selalu saja ada permintaan dari pasar karya nugraha, pasar wameo, dan pengumpul ikan kering di Baubau untuk dijual kembali ke Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kami sering dapat permintaan dari luar daerah,” kata Eva, Jumat (15/6/2023).

Dia menerangkan, perolehan omzet penjualan ikan kaoleo tiap bulanya tidak bisa juga dipastikan. Karena bahan bakunya bergantung pada nelayan yang mencari ikan di laut. Jika tinggi gelombang laut, bahan bakunya susah, begitu juga sebaliknya. “Saat cuaca sedang baik, saya bisa dapat pasokan bahan baku ikan wawokiahnya,” bebernya.

Dia menjelaskan, harga bervariasi sesuai ukuran dan jumlah hasil tangkapan. Semakin kecil ukurannya maka harga semakin mahal, begitu sebaliknya. Jika hasil tangkapan nelayan kurang, maka harga bisa mahal. Harga termurah Rp80-90 ribu perkilo, termahal mulai Rp100-130 ribu perkilo.

Untuk jenis ikan kaoleo yang diolah diantaranya, ikan teri putih (wawokia kapute), teri hitam (wawokia kaito), teri karang (wawokiano pasi), teri campyr (wawokia ngkososlo).

Lanjut Eva menjelaskan, proses pembutanya, ikan lure segarnya dicuci bersih di laut, lalu dibilas air tawar. Kemudian dijemur di bawah terik matahari menggunakan alat yang disebut Kalase (tempat jemuran, berbentuk meja panjang terbuat dari bambu, model jelajah dan lebar), setengah kering.

“Setelah setengah hari, jam 11-1 siang atau selesai sholat dzuhur sudah bisa dipanggang,” paparnya.

Diungkapkan, khusus bantuan pemerintah, dulunya pernah ada, Seperti ember, kawat pengalas untuk memanggang, terpal, keranjang cuci ikan, dan dibuatkan tempat pemanggangan tapi tidak digunakan karena sirkulasi udara dan asap yang di hasilkan kurang baik.

“Ikan teri tangkapan nelayan bisa menjadi sumber penghidupan yang layak bagi masyarakat jika mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dalam pengelolaan dan pengembangannya agar dapat memperbaiki ekonomi masyarakat khususnya desa boneatiro,” tutupnya.

Editor: Kasim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini