Berkunjung ke Benteng Keraton Buton, Selain Situs Sejarah Juga Ada Gerai Pusat Oleh-oleh

0
68
Wawan Erwiansyah memperlihatkan baju-baju Wol10. (Foto Istimewa)

DILANSIR – Benteng Keraton Buton di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara sebagai salah satu situs bersejarah yang paling baynyak diminati olwh wisatawan, baik lokal maupun sampai ke mancanegara. Selain itu, di benteng terluas di dunia itu terdapat banyak spot untuk mengabadikan momen dengan berswafoto. Dan baju menjadi salah satu oleh-oleh paling dicari wisatawan yang berkunjung ke Kota Baubau. Gerainya di kawasan Benteng Keraton Buton.

Bisnis penjualan baju oleh-oleh dari Benteng Keraton Buton itu dibangun oleh Wawan Erwiansyah. Ia menamai brandnya Baju Wolio dan merintis usaha berbasis ekonomi kreatif tersebut pada 2013 atau 10 tahun silam.

“Waktu itu saya dipanggil teman untuk ke Benteng Keraton Buton Baubau. Dia memang tahu saya bergerak di konveksi di Jakarta,” ujar Wawan ditemui di gerai usahanya, Rabu (7/6).

Setelah mempelajari prospek dan peluang, akhirnya dia memutuskan menerima juga ajakan membangun usaha di Kota Baubau. Kala itu, ia memboyong 170 lembar baju jenis aturan yang bertuliskan beragam tulisan mengandung promosi destinasi wisata di Baubau.

“Waktu saya tiba di sini diketawakan. Mereka bilang mana laku baju yang gambarnya rame, aturannya juga begitu karena memang yang banyak dicari bertuliskan tanda tangan. Tapi justru baju aturan itu yang membuat bertahan sampai sekarang,” tuturnya.

Wawan Erwiansyah memperlihatkan baju-baju Wol10 dengan desain gambar menampilkan bentuk atau peta Benteng Keraton Buton.(Foto Texandi)

Dia menuturkan, aturan yang diberlakukan pada penjualan baju Wol10 itu antara lain tidak dijual secara online, setiap orang maksimal belanja enam lembar, dan sepekan hanya bisa belanja sekali. Pun pihaknya konsisten menerapkan ketentuan baju tersebut dalam keadaan apapun.

“Jadi banyak tamu habis belanja hari ini, besok datang lagi, kita tidak terima. Bahkan ada tamu kita blacklist karena terdeteksi mengakali aturan. Pokoknya laku tidak laku, saya tidak bertahan. Makanya, saya tidak pernah ikut iven-iven di luar benteng keraton. Kalau mau beli harus ke sini,” bebernya.

Kendati hanya dijual di luar kawasan benteng, ungkap dia, baju Wol10 tetap dicari orang khususnya wisatawan. Bahkan, tidak sedikit yang membeli adalah wisatawan mancanegara dari berbagai negara seperti Australia, Amerika, Italia, dan Malaysia.

“Enam bulan pertama menjual itu yang laku 100 lembar dengan harga Rp50 ribu per lembar. Sekarang saya sudah jual Rp100 ribu per lembar. Tentu, saya tetap mempertahankan kualitas sablon pada baju,” imbuhnya.

Produk-produk yang dijual Wawan Erwiansyah di kawasan Benteng Keraton Buton Kota Baubau. (Foto Istimewa)

Ia mengakui sampai saat ini baju Wol10 yang dijualnya masih diproduksi di Jakarta. “Sekarang saya sudah kembangkan produk kerajinan lainnya seperti gantungan kunci, tempelan kulkas, miniatur Lawero, celana, dan tas,” pungkasnya.

Penulis: Alex

Editor: Kasim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini